Pak Prabowo, Tolong Dengar Kami

Pak Presiden...

Izinkan saya mulai dengan jujur: saya bukan pemilih Bapak. Tapi itu bukan alasan untuk diam. Justru karena saya tidak memilih, saya merasa berhak bersuara, sebab apapun hasilnya, Bapak kini adalah presiden saya juga.

Sejak Bapak dilantik, kami rakyat jadi saksi betapa riuhnya negeri ini. Ada demo menolak kebijakan, ada suara protes di jalanan, ada Papua yang kembali bergejolak, ada pajak yang bikin rakyat kecil menjerit. Sampai terkini, darah rakyat tumpah di jalanan. Semua itu menambah daftar luka yang sudah panjang.

Namun di tengah riuh itu, kami juga melihat secercah niat baik: dorongan untuk kedaulatan pangan agar petani dan nelayan kembali berdiri tegak, sampai tekad memperkuat pertahanan agar bangsa ini tak mudah diinjak dari luar. Itu langkah-langkah yang, bila dijalankan dengan tulus, bisa menjadi warisan kebaikan di masa Bapak.

Saat ini, bangsa kembali menjerit pak…

Yang kami harap, Bapak tidak terjebak pada tepuk tangan palsu. Jangan segan mengevaluasi kebijakan yang melukai rakyat, jangan gengsi mengakui salah. Karena rakyat jauh lebih mudah memaafkan pemimpin yang jujur, daripada yang pura-pura sempurna.

Pak Presiden, empat tahun ke depan masih panjang. Waktu yang cukup untuk memperbaiki arah. Tapi jalan itu tidak akan mudah: akan ada badai fitnah, bisikan manis dari para penjilat yang menyamar sebagai sahabat, dan jebakan kebijakan yang tampak indah di atas kertas tapi menghancurkan di lapangan.

Jangan sampai Bapak berjalan dengan mata tertutup, ditemani oleh mereka yang lebih pandai menyusun puisi di telinga ketimbang menyusun solusi bagi negeri.

Kadang kebenaran memang pahit, seperti jamu yang meninggalkan getir di lidah tapi menyehatkan tubuh. Dan sering kali, justru yang manis datang dari perkataan penjilat iblis, terasa menyenangkan, tapi diam-diam meracuni.

Pilihan Bapak sederhana: menelan yang pahit untuk menyembuhkan negeri, atau tergoda yang manis lalu perlahan membiarkan bangsa ini jatuh sakit.

Hormat kami,
Seorang Warga yang Masih Mau Percaya
Dari Purwokerto, ditemani gerimis yang mengiris.