Ditampar Dr. Angka
Sejarah sering membingungkan: orang-orang yang paling punya alasan untuk diam, justru memilih ribut.
Itu
yang terlintas di kepala saya setiap berangkat ke kantor di Jl dr Angka,
Purwokerto. Buat saya, nama jalan ini seperti sindiran yang terus menatap.
Angka
adalah seorang dokter di zaman kolonial. Hidup hidup nyaman, berpendidikan
tinggi, punya privilese yang tidak semua Bumiputra miliki. Tapi, ia malah
memilih keluar dari zona aman.
Ia bisa saja tenang, merawat pasien, menikmati status, mati terhormat sebagai dokter Jawa di bawah bayang Belanda. Tapi tidak. Ia justru mendobrak. Ia memilih jalan sulit, mengorbankan kenyamanan pribadi demi menyalakan api Kebangkitan Nasional.
Dengan mantap, dr Angka bersama karibnya dan
mendirikan Budi Utomo. Membangun sebuah pondasi ke lembaran perjuangan lainnya, Sarekat Islam, Indische Partij, Jong Java, Jong Sumatera, sampai Sumpah Pemuda, lalu akhirnya merdeka.
Lalu
saya menengok ke sekitar, ke negeri yang katanya sudah merdeka dan kini sedang
memperingati ulang tahunnya.
Ironis..
Saya
dan sebagian besar generasi hari ini lebih memilih jalur aman. Gaji tetap,
tunjangan pasti, pensiun dijanjikan. Dan dengan itu, lahirlah barisan manusia
yang nyaman bungkam.
Pajak
mencekik? Diam. Kebijakan absurd? Diam. Lihat gaya kolonial baru dengan wajah pejabat? Diam. Negara minta semua tanpa timbal balik? Diam. Asal slip gaji masuk
tiap bulan, semua dianggap baik-baik saja.
Setiap teriakan "Merdeka!" terasa getir di telinga saya.
Kita
lupa dengan fakta bahwa bangsa ini tidak pernah dibangun oleh mereka yang aman.
Indonesia lahir dari mereka yang rela kehilangan rasa aman demi orang lain. Dr.
Angka adalah pengingat kerasnya: bahwa privilese seharusnya dipakai untuk
memperjuangkan, bukan untuk bersembunyi.
Dan
saya, yang setiap hari melintasi Jalan dr. Angka, tahu betul betapa nama itu
kini lebih sering dijadikan alamat pos ketimbang inspirasi.
Mungkin itulah penyakit kita: merayakan kemerdekaan dengan seremoni, tapi lupa menyalakan api keberanian yang dulu membuat kata merdeka lahir dari darah dan pilihan.
