Kecewa #16
Dalam bahasa Indonesia, kami menyebutnya: kecewa.
Tapi, dalam puisi, ini tentang jalan raya yang berubah jadi kuburan.
Tentang roda negara menindas, lebih kejam dari preman terminal.
Dalam bahasa Indonesia, kami menyebutnya: kecewa.
Tapi dalam puisi, ini tentang seragam yang lebih sibuk melindungi kuasa, daripada menjaga nyawa.
Sirene meraung, tapi bukan lagi tanda selamat.
Suaranya memicu duka, menjadi genderang maut, mengiring rakyat menuju aspal.
Dalam bahasa Indonesia, kami menyebutnya: kecewa.
Tapi dalam puisi ini bukan lagi tentang hidup yang makin susah.
Ini kisah tentang mereka yang mati namun tak lagi punya arti.
Negeri ini berjalan mundur.
Keadilan tertidur.
Kemanusiaan digilas.
Dan kita semua dipaksa percaya bahwa tragedi hanyalah “kesalahan oknum.”
