Sumari

Indonesia... Negeri di mana teriakan bisa berbalas gas dan langkah bisa berujung luka. Tapi yang paling tragis adalah ketika bahkan mereka yang tak bersuara ikut menjadi korban.

Adalah Sumari, pria renta yang menggantungkan hidup pada roda becak berkarat. Enam puluh tahun usia, tapi ia tetap harus mengayuh, sebab perut tidak pernah mengenal kata pensiun. Malam itu, tubuhnya terlalu letih. Ia rebah di becak, menjadikan langit Solo sebagai atap, dan malam pasar sebagai pengantar tidur.

Ia tidak tahu ada rapat paripurna di Jakarta yang melahirkan angka-angka fantastis. Ia tidak tahu ada ribuan mahasiswa yang turun ke jalan, menolak keserakahan yang terlalu telanjang. Ia bahkan tidak tahu bahwa malam itu, di Bundaran Gladak, negara sedang berperang dengan rakyatnya sendiri.

Yang ia tahu hanyalah lelah, dan sekejap tidur untuk menyambut esok. Tapi gas air mata menyalip mimpinya. Kabut yang katanya untuk mengurai massa, menembus paru-paru renta yang rapuh. Dadanya sesak, napasnya pendek, tubuhnya menggigil. Sumari pun perlahan roboh, ditidurkan bukan oleh mimpi, melainkan oleh asap negara.

Inilah ironi paling getir: Sumari tidak melawan, tidak bersuara, tidak mengangkat spanduk. Ia hanya rakyat kecil yang kebetulan ada di tempat yang salah. Dan untuk itu, nyawanya harus dihitung sebagai “kerugian sampingan”.

Di kursi parlemen, wakil rakyat masih bisa tidur nyenyak di balik tunjangan ratusan juta. Di ruang rapat, pejabat masih bisa berdebat tentang pasal-pasal. Tapi di Pasar Gede, Solo, satu roda becak berhenti selamanya. Roda kecil yang menghidupi sebuah keluarga patah, sementara roda besar kekuasaan tetap berputar, melindas apapun yang ada di depannya.

Sumari adalah cermin yang seharusnya membuat kita semua menunduk. Mahasiswa, bersuaralah dengan api, tapi jangan biarkan api itu membakar rakyat yang sama-sama lapar. Polisi dan TNI, jagalah jalanan, tapi ingatlah: senjata dan gas bukanlah bahasa yang bisa dipahami paru-paru renta.

Dan kalian yang duduk di kursi kuasa, berhentilah menandatangani kebijakan seolah tinta tak berharga—sebab tiap tetesnya bisa berubah jadi darah di aspal. Dari kisah Sumari kita belajar, bahwa ketergesaan, keserampangan, dan keserakahan selalu punya harga, dan harga itu sering kali dibayar oleh mereka yang paling tak tahu apa-apa.

 

Dari Purwokerto yang basah oleh air mata.